Langsung ke konten utama

AJI Indonesia Selenggarakan UKJ di Manado

MANADO – Mengawali pelaksanaan Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerja sama dengan Kedutaan Besar (Kedubes) Australia, Jumat 24 Januari 2020, menggelar Workshop Etik dan Profesionalisme Jurnalis dengan tema ‘Profesionalisme Jurnalis Menghadapi Hoax’, bertempat di Hotel Ibis, Manado.

Hasudungan Sirait dari AJI Indonesia menjelaskan, media massa sesuai namanya adalah media milik masyarakat. Sehingga media massa harus benar-benar mengikuti kemauan atau mandat dari masyarakat bukan dari para pemodal.

Tak heran saat ini, menurut Hasudungan yang juga Kepala Sekolah Jurnalis AJI, banyak media yang kemudian tak bisa bertahan karena kehilangan mandat dari masyarakat, seiring dengan hilangnya kepercayaan masyarakat kepada media massa yang terlalu tunduk pada kepentingan pemodal.

“Jika ada media yang tutup kemudian menyalahkan kondisi pembaca yang kurang, itu sebenarnya harus introspeksi, karena mereka telah kehilangan mandat dari masyarakat dalam hal ini pembaca mereka,” kata Bang Has, sapaan akrab Hasudungan Sirait.

Ketua AJI Manado, Yintzhe Lynvia Gunde mengatakan, kegiatan ini merupakan pembukaan kegiatan UKJ yang akan dilaksanakan Sabtu-Minggu, 25-26 Januari 2020.

“Terima kasih kepada AJI Indonesia dan Kedubes Australia yang telah memberikan kepercayaan kepada AJI Manado sebagai tuan rumah rangkaian kegiatan Workshop dan UKJ,” katanya, seraya mengajak rekan-rekan peserta workshop dan UKJ untuk memanfaatkan momen ini dengan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sebaik mungkin agar memperoleh hasil yang benar-benar terbaik.

Postingan populer dari blog ini

Andi dan Nabil, 2 Bocah Putus Sekolah Mengais Pendidikan dari Komunitas Dinding

Anggota kelompok IV Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) AJI Manado, Joice Bukarakombang dan Devy Kumaat, sedang mewawancarai Yestin Rasyid, ibu dari Andi dan Nabil. MANADO - Pasar Bersehati di Kota Manado, memang merupakan pusat perekonomian dan tempat berjualan para pedagang, namun bagi puluhan anak, itu adalah tempat mereka bermain. Setiap hari mereka anak-anak ini bermain bersama, ada yang masih sekolah ada juga yang putus sekolah. Lantai II menjadi tempat favorit mereka untuk bermain. Mulai berlari-lari, bermain kartu, juga permainan lain yang membuat mereka senang dan bahagia. Ada Andi Rasid dan Nabil adiknya, sudah tidak bersekolah. Andi sudah berhenti sekolah saat baru dua minggu masuk kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Ia bungkam saat ditanya kenapa berhenti dari sekolah, namun di benaknya masih ada cita-cita yang ingin dicapai. "Ingin jadi polisi," katanya, sembari menundukkan kepala. Padahal, teman sebayanya mengatakan, Andi teman yang ...

Komunitas Dinding Manado Bantu Pendidikan Anak tanpa Dilirik Pemerintah

 M antan Ketua Komunitas Dinding Windy Fachruddin sedang berbincang-bincang dengan wartawan di lobi Hotel Ibis Manado. MANADO - Keberadaan pendidikan usia dini yang digagas Komunitas Dinding Manado, sudah sejak Februari 2010. Meskipun sudah berlangsung 10 tahun ternyata tak dilirik instansi pemerintah. Hal tersebut sesuai disampaikan mantan Ketua Komunitas Dinding periode lalu Windy Fachruddin ketika diwawancarai sejumlah pewarta, di Hotel Ibis, Minggu (26/1/2020). “Pernah komunikasi ke dinas, namun dasarnya kami bertujuan tidak untuk hal tersebut. Karena mereka pula hanya menanyakan soal komunitas kami tapi sampai sekarang belum datang kembali,” kata Facruddin pekerja di BPJS Kesehatan Kanwil Manado ini. TERKAIT: Pedagang Sambut Gembira Komunitas Dinding Lanjut dia, soal keberadaan mereka pula adalah tak mungkin tidak diketahui, karena komunitas tersebut sering mengikuti acara oleh iven organizer tertentu seperti Manado Creative atau Manado Youth Festival....